Gus Baha: Tanda Kamu Dicintai Allah, Tapi Jarang Disadari

Mengikuti Jejak Orang Baik dalam Al-Qur’an

Dalam kesempatan tersebut, disampaikan sebuah poin penting mengenai ajaran dalam Al-Qur’an. Setiap kali Allah menyebutkan orang-orang baik, Dia selalu menyebutkan identitas mereka. Hal ini merujuk pada firman Allah, “Ulikadina anamallahu alaihim minyati adam wimman hamalna mauh wamati ibrahim wa israil” (golongan orang yang diberi nikmat oleh Allah, dari para nabi seperti Adam, Nuh, Ibrahim, dan Israil).

Mengapa Kita Harus Mengikuti Manusia, Bukan Langsung Meniru Allah?

Alasan di balik penyebutan nama-nama ini sangat mendasar. Manusia tidak bisa langsung meniru sifat Allah. Allah adalah zat yang tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan sudah pasti tidak menikah. Karena keterbatasan kita sebagai makhluk, satu-satunya cara untuk meneladani kebaikan adalah dengan mengikuti jejak manusia pilihan, yaitu para nabi dan orang-orang saleh. Tanpa adanya figur yang bisa ditiru, mustahil bagi kita untuk menerapkan ajaran Allah dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat fisik dan sosial.

Kritik terhadap Sikap Mengultuskan Guru atau Kiai

Sebuah kritik tajam dilontarkan terhadap fenomena di masyarakat yang menganggap guru atau kiai selalu benar. Dalam tradisi pesantren seperti di Lirboyo dan Sarang, sejak kecil diajarkan bahwa “selain Rasulullah Muhammad, tidak ada yang maksum (terjaga dari kesalahan)”.

Tidak Ada Manusia yang Maksum Selain Nabi

Pernyataan “kiai mesti bener” dianggap sebagai pemikiran yang keliru. Justru, karena kita tahu bahwa kiai bisa saja salah, maka kita harus tetap kritis dan tidak mengikuti secara membabi buta. Logikanya sederhana: jika kita sudah tahu bahwa seorang kiai belum tentu benar, lalu kenapa kita tetap mengikutinya tanpa pertimbangan? Lebih ironis lagi jika orang yang mengkritik tersebut malah merasa dirinya paling benar. Sikap seperti inilah yang dikritik sebagai gerakan “cangkemelek” atau sok pintar secara sembarangan.

Metode Mudah Memahami Al-Qur’an: Kitab Syajaratul Ma’arif

Untuk mengatasi kesulitan dalam memahami Al-Qur’an, diperkenalkan sebuah kitab karya Syekh Izuddin bin Abd Salam yang dijuluki Sultanul Ulama, yaitu Syajaratul Ma’arif. Metode kitab ini dianggap sangat mudah karena setiap peristiwa khusus dalam Al-Qur’an dan hadis diberi judul umum. Dengan cara ini, Al-Qur’an menjadi relevan untuk semua zaman (ila yaumil kiamah).

Contoh Penerapan Judul Umum

1. Babu Nafil Ibad Bilad (Manfaat di Mana Saja)
Judul ini mengajarkan bahwa seorang hamba harus bermanfaat di mana pun dia berada. Dalilnya diambil dari doa Nabi Isa: “Waja’alani mubarokan ainama kuntu” (Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada). Baik di Rembang, Lirboyo, atau tempat lain, etikanya tetap satu: harus membawa berkah dan manfaat.

2. Babu Saddiz Zaroe (Menutup Pintu Keburukan)
Dalam konteks Indonesia, bab ini sangat relevan. Contohnya adalah larangan mencaci maki sembahan agama lain. Dalilnya dari Al-Qur’an: “Wala tasubbuladzina min dunillahi fasubbullaha adwam bighir ilm”. Jika umat Islam menyakiti agama lain, maka justru Allah dan Islam yang akan disakiti. Ini adalah bagian dari menjaga kehormatan Islam itu sendiri.

3. La Yutrokul Haqqu Liajlil Batil (Jangan Tinggalkan Kebenaran Karena Kebatilan)
Prinsip ini sangat penting. Kebenaran tidak boleh ditinggalkan hanya karena di sekitar kita banyak kebatilan. Dalilnya adalah peristiwa saat Nabi melakukan sai di Safa dan Marwah. Padahal saat itu, di kedua tempat tersebut masih ada berhala yang disembah orang jahiliyah (Isaf dan Nailah). Namun Allah tetap memerintahkan ibadah tersebut sebagai simbol bahwa kebenaran harus tetap ditegakkan.

Praktik Nyata: Menghadiri Acara Masyarakat

Penerapan bab La Yutrokul Haqqu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika ada orang yang meninggal karena narkoba atau mabuk, seorang kiai tetap dianjurkan untuk hadir mengurus jenazahnya. Tujuannya bukan untuk membenarkan perbuatannya, tetapi untuk memastikan jenazah Muslim tersebut tetap diperlakukan sesuai syariat Islam. Jika kiai tidak datang, dikhawatirkan akan muncul tradisi baru yang menyimpang dalam penguburan.

Contoh lainnya adalah menghadiri akad nikah meskipun ada campur baur antara laki-laki dan perempuan. Para guru terdahulu (seperti Mbah Mun) tetap hadir karena jika kiai absen, dikhawatirkan masyarakat akan membuat tata cara akad nikah versi mereka sendiri yang jauh dari tuntunan Islam.

Wasilah: Pentingnya Sanad Keilmuan

Dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, wasilah atau bertawassul melalui guru dan para ulama adalah hal yang penting. Hal ini karena kita tidak bisa meniru Allah secara langsung. Seperti yang telah dijelaskan, Allah tidak memiliki sifat fisik. Oleh karena itu, kita harus meniru manusia yang telah mendapat petunjuk, yaitu para nabi, dan para ulama yang mewarisi ilmu mereka.

Dalil Wasilah dari Al-Qur’an

Dalil yang sering digunakan adalah ayat dalam surat Al-Fatihah: “Ihdinasiratal mustaqim, shirathalladzina an’amta alaihim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat). Ayat ini jelas memerintahkan kita untuk mengikuti jejak orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, bukan langsung meniru Allah. Tanpa adanya perantara (murabbi), kita tidak akan tahu bagaimana cara menjalankan perintah Allah dengan benar. Sebuah ungkapan masyhur mengatakan: “Wallau lal ulama lama arofnal anbiya, walau lal murabbi lama arofnal rabba” (Tanpa ulama, kita tidak akan mengenal nabi; tanpa guru, kita tidak akan mengenal Tuhan).

“`